Investasi Syariah – Jenis, Cara, Kelebihan, dan Dasar Hukumnya

Adakah investasi syariah?

Banyak orang saat ini sudah melek investasi, tapi beberapa masih meragukan sistem dan prinsipnya karena tidak sesuai dengan syariah Islam.

Hal ini pun menjadi peluang bagi beragam perusahaan investasi untuk menawarkan pilihan investasi berdasarkan syariat Islam.

Investasi syariah adalah penanaman modal dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan sesuai prinsip dan hukum Islam.

Umumnya investasi ini dimulai dengan melakukan akad berupa akad kerja sama (musyarakah), sewa-menyewa (ijarah), dan akad bagi hasil (mudharabah).

Bukan sembarang label, setiap pilihan investasi berdasarakan syariat Islam harus telah disetujui oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ya.

Jadi, jangan mau jika kamu ditawarkan produk investasi dengan embel-embel syariah, tapi prosedurnya tidak mengikuti aturan dan dasar hukum syariah ya.

Nah, apa saja jenis, cara kerja dan kelebihan investasi syariah ini? Berikut ini ulasannya!

Jenis investasi syariah

Investasi Syariah – Jenis, Cara, Kelebihan, dan Dasar Hukumnya

Umumnya jenis investasi berdasarakan syariat Islam mirip dengan investasi konvensional. Namun, masyarakat yang meyakini prinsip dan hukum Islam tentu memilih syariah karena tidak adanya bunga atau riba.

Beberapa jenis produk investasi berdasarakan syariat Islam, yaitu:

1. Investasi reksadana syariah

Seperti model konvensional, manajer investasi akan mengumpulkan dana dari para investor dan akan mengelola uang pada beberapa instrumen, seperti obligasi, instrumen pasar uang, atau saham syariah.

Perbedaan utamanya adalah saham perusahaan, seperti rokok, minuman keras, dan perbankan konvensional, sudah pasti tidak ada dalam daftar reksa dana syariah.

2. Investasi emas syariah

Nilai aset emas yang aman, terjaga, dan mampu memproteksi kekayaan dalam jangka panjang serta mudah dicairkan memang menjadi favorit masyarakat sebagai pilihan investasi.

Salah satu pilihannya dari bank syariah dan Pegadaian syariah adalah tabungan emas, yaitu layanan penitipan saldo untuk berinvestasi emas dengan cara dicicil.

Uang yang disetorkan nasabah akan dikonversikan menjadi emas sampai dengan empat digit di belakang koma. Dalam pencatatan di buku tabungan emas, akan diinformasikan saldo dalam bentuk rupiah dan gram emas.

3. Investasi properti syariah

Investasi properti, seperti apartemen, rumah tapak, kontrakan, kos-kosan, toko/kios, dan tanah, merupakan jenis investasi yang sangat menjanjikan khususnya untuk pendapatan pasif jika disewakan.

Untuk kamu pemilik properti dan meyakini prinsip syariah, tentu kamu bisa membuat peraturan sendiri di area propertimu, seperti:

  • Pasangan lawan jenis yang ingin menyewa apartemen, rumah tapak, ataupun kontrakan harus menunjukkan surat nikah
  • Kos-kosan khusus putra/putri (lawan jenis dilarang masuk).
  • Tanah kosong dijadikan lahan parkir umum (imbal hasil yang sesuai antara pemilik tanah dan pengelola parkir).

4. Deposito syariah

Deposito syariah merupakan tabungan berjangka yang disediakan bank syariah dan dilindungi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Bank akan mengelola dana simpanan hingga batas waktu yang sudah dimusyawarahkan bersama. Kamu juga akan mendapatkan keuntungan tiap bulan dari jumlah persentase yang sudah didiskusikan sebelumnya.

Deposito syariah tidak memberlakukan sistem bunga, tetapi sistem bagi hasil dari investasi ke produk usaha yang halal.

5. Saham syariah

Saham syariah adalah efek atau surat berharga yang memiliki konsep penyertaan modal dengan hak bagi hasil usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Sama seperti reksa dana syariah, saham perusahaan, seperti perusahaan rokok, makanan haram, minuman keras, dan perusahaan pinjaman yang mengandung riba, sudah pasti tidak ada dalam kriteria daftar saham syariah.

Saham syariah juga diawasi Dewan Pengawas Syariah (DPS) untuk memastikan aktivitas perusahaan tetap memberlakukan nilai-nilai syariah.

6. Obligasi syariah (sukuk)

Sukuk adalah produk surat berharga jangka panjang yang diterbitkan dengan prinsip syariah. Biasanya perusahaan menggunakan obligasi syariah untuk mencari modal.

Pemberi pinjaman atau investor tidak akan menerima bunga seperti halnya obligasi konvensional, tetapi mendapat imbal hasil dari manfaat penggunaan dana sukuk tersebut.

7. Investasi P2P lending syariah

P2P lending syariah adalah layanan keuangan berdasarkan prinsip syariah yang mempertemukan atau menghubungkan pemberi dengan penerima pembiayaan dalam rangka melakukan akad pembiayaan.

Empat jenis akadnya meliputi:

  • Akad Al Qardh: mewajibkan kepada orang yang menerima dana harus mengembalikannya pada waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan agar si peminjam tetap bisa memenuhi kebutuhannya.
  • Akad Wakalah Bil Ujrah: seseorang bisa memberikan kuasa kepada pihak lain untuk melakukan tindakan atas nama pemberi kuasa atau wakalah, yang nantinya ia bisa mendapatkan imbalan atau ujrah.
  • Akad Mudharabah Muqayyadah: persentase pembagian keuntungannya sudah disepakati sejak awal antara pemilik modal dan pengelola. Tapi jika ada kerugian, yang menanggung adalah si pemodal.
  • Akad Musyarakah: dua pihak atau lebih bisa berpartisipasi dalam melakukan suatu usaha tertentu dengan memberikan modal untuk menjalankan pendanaan bersama. Sementara untung ruginya akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan.

8. Investasi online syariah

Investasi online syariah adalah investasi yang dijalankan secara online, tapi tidak bertentangan dengan prinsip syariah Islam.

Contohnya adalah jenis-jenis yang sudah dijelaskan di atas seperti reksa dana, emas, deposito, saham, sukuk, dan P2P lending yang semuanya berdasarkan prinsip syariah Islam.

Cara kerja dan simulasi perhitungan imbal hasil

Kunci utama dalam investasi berdasarakan syariat Islam adalah dengan menggunakan sistem akad.

Akad merupakan perjanjian atau kesepakatan, baik dari satu pihak maupun kedua belah pihak (penjual dan pembeli) yang berkomitmen dengan nilai-nilai syariah.

  • Akad adalah keterkaitan antara ijab dan qobul.
  • Ijab adalah pernyataan pihak pertama yang memiliki keinginan untuk investasi.
  • Qobul adalah jawaban terhadap ijab yang dilakukan oleh pihak penerima modal. 

Tiga prinsip akad dalam investasi berdasarakan syariat Islam adalah bakal kerja sama (Musyarakah), sewa menyewa (Ijarah), dan bagi hasil (Mudharabah).

Lalu, bagaimana simulasi perhitungan imbal hasil dalam investasi berdasarakan syariat Islam? Berikut gambarannya!

Misalnya, kamu adalah seorang investor yang membeli SR015 (sukuk/obligasi syariah) senilai Rp10 juta. SR015 memiliki imbal hasil 5,10% dan pajak 15% per tahun. Perhitungan imbal hasil yang kamu dapat adalah:

  • Imbal hasil/tahun = 5,10% x Rp10.000.000 = Rp510.000
  • Pajak/tahun = 15% x Rp510.000 = Rp76.500
  • Imbal hasil bersih/tahun = Rp510.000 – Rp76.500 = Rp433.500
  • Imbal hasil bersih/bulan = Rp433.500 : 12 = Rp36.125

Kelebihan dan risiko investasi syariah

Kelebihan investasi berdasarakan syariat Islam dibanding konvensional meliputi:

  • Bebas riba.
  • Cenderung minim risiko.
  • Manajemen sesuai syariat Islam.
  • Halal, memberikan potensi keuntungan tanpa melanggar syariah Islam.
  • Masa depan cerah (potensi pasar dan bisnis syariah akan berkembang).
  • Menawarkan keuntungan yang lebih baik dibanding konvensional pada kondisi tertentu.

Walaupun berlabel syariah, investasi tetap memiliki risikonya masing-masing. Beberapa risiko investasi berdasarakan syariat Islam adalah:

  • Kehilangan modal.
  • Ketidakpastian return/imbal hasil.
  • Produk investasi sulit dijual.
  • Terlalu percaya (investasi bodong berkedok syariah).

Dasar hukum dan syarat investasi syariah

Investasi Syariah – Jenis, Cara, Kelebihan, dan Dasar Hukumnya

Berdasarkan dokumen fatwa DSN MUI, beberapa fatwa mengenai investasi berdasarakan syariat Islam mencakup:

  • Fatwa No.20/DSN-MUI/IX/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksadana Syariah.
  • Fatwa No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah.
  • Fatwa No. 33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah.
  • Fatwa No. 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.
  • Fatwa No. 41/DSN-MUI/III/2003 tentang Obligasi Syariah Ijarah.
  • Fatwa No. 59/DSN-MUI/V/2007 tentang Obligasi Syariah Mudharabah Konversi.
  • Fatwa No. 65/DSN-MUI/III/2008 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) Syariah.
  • Fatwa No. 66/DSN-MUI/III/2008 tentang Waran Syariah.
  • Fatwa No. 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
  • Fatwa No. 71/DSN-MUI/VI/2008 tentang Sale and Lease back.
  • Fatwa No. 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN Ijarah Sale and Lease Back.
  • Fatwa No. 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN Ijarah Asset To Be Leased.
  • Fatwa No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.

Sementara syarat investasi berdasarakan syariat Islam adalah setidaknya mengandung beberapa hal berikut, seperti:

1. Tidak mengandung Gharar dan Maysir

Gharar adalah memberi informasi yang tidak lengkap dan membuat nasabah kebingungan. Sementara Maysir adalah risiko investasi yang berlebihan.

2. Akad Wakalah bil Ujrah dan Mudharabah

Akad wakalah bil ujrah merupakan penjaminan atas wali dalam investasi berbasis syariah. Sementara akad mudharabah adalah bentuk kepercayaan pemilik modal kepada investor dan sebaliknya.

3. Proses pembersihan keuntungan/imbal hasil

Secara berkala akan dilakukan pengecekan apakah investasi dihasilkan dari sumber yang syar’i atau tidak.

4. Hanya berinvestasi di perusahaan halal

Penempatan dana hanya dilakukan di perusahaan yang halal dengan tujuan untuk menghindari riba dan hal-hal lain yang tidak dibenarkan dalam Islam.

Perbedaan investasi syariah dan konvensional

Walaupun langkah-langkah atau tata cara pelaksanaan beberapa jenis produk investasi konvensional dan syariah hampir mirip. Tetap saja ada perbedaan mendasar diantara keduanya, simak tabel berikut ini!

Perbedaan Investasi Syariah Investasi Konvensional
Akad  Mudharabah, Ijarah, Musyarakah Tidak menetapkan aturan halal dan haram
Tujuan investasi SRI (Socially Responsible Investment)/kebajikan sosial, kehalalan dan keberkahan untuk akhirat Keuntungan/return sebanyak mungkin
Produk yang ditawarkan Instrumen investasi tidak terlalu banyak (hanya yang sesuai prinsip syariah) Instrumen investasi lebih banyak
Badan usaha penjual saham Bebas bunga, menerapkan akad saat transaksi, saham yang dijual harus sesuai syariah Islam Ada bunga, rawan terjadi transaksi spekulatif dan manipulatif
Sistem transaksi pendanaan Uang investor hanya mendanai usaha di sektor halal Tidak ada batasan (bebas), ada kemungkinan unsur manipulatif, spekulatif, transaksi tidak jelas, dan judi.
Indeks saham Saham yang tercantum pada bursa pasar modal syariah terjamin kehalalannya  Terbuka secara bebas, tidak ada pemisahan saham halal secara khusus
Sukuk vs obligasi Sukuk: pihak pemegang obligasi bukanlah kreditur, tapi pemodal atau shahibul mal. Sedangkan emiten disebut sebagai pengelola atau mudharib. Obligasi: pemegang obligasi sebagai kreditur atau orang yang berpiutang. Perhitungan nisbahnya pun didasarkan kepada perkembangan suku bunga yang berlaku.
Pengawasan Dewan Pengawas Syariah (DPS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Keuntungan Imbal/bagi hasil Bunga yang besar

FAQ

Kenapa harus investasi syariah?

Alasannya adalah: Pertama, tidak memiliki praktik riba, masyir, dan gharar. Kedua, tidak terfokus pada keuntungan investor saja tetapi juga kebajikan sosial dan kehalalan serta keberkahan akhirat. Ketiga, prinsipnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Apa itu pasar modal syariah?

Seluruh kegiatan di pasar modal yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Apakah investasi halal?

Ya, investasi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari keuntungan/imbal hasil. Kamu bisa memilih melakukan investasi pada produk atau instrumen yang berbasis syariah Islam dan telah dijamin kehalalannya.