Initial Public Offering (IPO) – Cara Mencatatkan Saham di BEI

Apa itu IPO? Pengertian IPO adalah proses penawaran umum saham perdana suatu perusahaan pada publik.

IPO adalah singkatan dari Initial Public Offering atau sering juga dikenal dengan “Penawaran Saham Perdana”. Salah satu contoh IPO yang ramai tahun ini adalah IPO Bukalapak.

Bukalapak diketahui baru saja melantai pada awal bulan Agustus 2021. Pada pelaksanaan IPO atau penawaran saham perdana pada publik, para investor yang berminat untuk berinvestasi harus melakukan pemesanan terlebih dahulu.

Setelah proses penawaran umum saham perdana terlaksana, saham perusahaan yang melakukan IPO akan tercatat di bursa. Untuk selanjutnya, saham tersebut bisa diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Manfaat IPO bagi perusahaan

Initial Public Offering (IPO) – Cara Mencatatkan Saham di BEI

Ada beberapa manfaat yang bisa didapat perusahaan kalau mereka melakukan IPO, yaitu:

1. Perusahaan mendapatkan dana untuk pengembangan bisnis

Suatu perusahaan memang umumnya bisa mendapatkan pendanaan dari berbagai sumber, seperti pinjaman ke bank atau mengeluarkan obligasi.

Akan tetapi, kedua sumber dana tersebut memberi tanggung jawab lain pada perusahaan, yaitu pembayaran bunga. 

Cara lain mendapatkan dana modal yang lebih besar adalah dengan melepas saham ke bursa. Selain itu, perusahaan juga tidak memiliki beban untuk membayar bunga pada investor.

2. Potensi berkembang lebih baik

Dengan adanya sokongan dana yang lebih besar dari para investor, memang sangat mungkin bagi perusahaan untuk bisa mempercepat perkembangan perusahaan dengan membuka cabang-cabang baru.

Hal ini memang bisa dilakukan dengan dana internal, tapi tentu prosesnya akan jadi lebih lama. 

3. Kinerja keuangan membaik

Adanya dana dari para investor memungkinkan perusahaan untuk dapat segera memperbaiki keuangan, mulai dari pelaporan hingga pembayaran utang-utang perusahaan.

4. Bisa meningkatkan nilai perusahaan

Dengan melakukan IPO, suatu perusahaan memiliki kesempatan untuk berkembang jauh lebih baik dalam jangka waktu yang ke depan.

Nilai perusahaan juga akan naik secara keseluruhan dengan semakin tingginya harga saham perusahaan tersebut di masa yang akan datang.

Selain itu, jika pasar memberikan persepsi positif bagi kinerja perusahaan, rasa percaya investor juga akan semakin tinggi yang bisa berefek pada harga saham.

5. Menaikkan citra perusahaan

Perusahaan yang sudah go public biasanya akan lebih sering disorot media. Sebab berita apa pun tentangnya bisa menjadi isu yang akan memengaruhi harga saham.

Di satu sisi ini berefek baik. Sebab jika kinerja perusahaan memang baik, ini bisa jadi marketing yang baik sekaligus dapat menarik minat investor. 

6. Adanya insentif pajak

Perusahaan yang sudah go public akan mendapatkan insentif pajak dari pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2013 Tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri Yang Berbentuk Perseroan Terbuka. 

Wajib Pajak badan dalam negeri yang berupa perseroan terbuka bisa mendapatkan penurunan tarif pajak penghasilan atau PPh sebesar 5% lebih rendah dari tarif normal PPh Wajib Pajak badan dalam negeri. 

Manfaat IPO bagi investor

Selain memberikan manfaat positif bagi perusahaan, proses IPO atau Initial Public Offering juga dapat memberikan beberapa manfaat bagi para investor, yaitu:

1. Terbukanya akses bagi investor 

Adanya IPO yang dilakukan perusahaan akan membuka akses yang lebih luas dan mudah dijangkau para investor retail.

Hal ini juga memungkinkan para investor untuk ikut mengambil peran dalam Pasar Perdana yang mana sebelumnya mereka hanya bisa berperan dalam pemesanan saham pasar perdana.

2. Alokasi penjatahan saham perdana

Adanya IPO ini dapat meningkatkan kesempatan bagi para investor untuk mendapatkan alokasi penjatahan saham perdana.

Ditambah lagi saat ini sudah terdapat e-IPO yang membuat investor lebih mudah ikut mengambil peran dalam penawaran umum melalui perusahaan efek sebagai selling agent.

Syarat perusahaan IPO

Untuk dapat melakukan IPO dan tercatat di Bursa Efek Indonesia, perusahaan harus mencatatkan saham mereka di Papan Utama dan Pengembangan. Adapun syarat yang harus dipenuhi dari tiap-tiap kategori, yaitu:

Papan Utama

Suatu perusahaan yang ingin masuk dalam daftar Papan Utama harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti:

  • Memiliki badan hukum berupa PT atau Perseroan Terbatas.
  • Masa operasional perusahaan lebih dari sama dengan 36 bulan.
  • Laba usaha dalam jangka waktu satu tahun terakhir.
  • Laporan keuangan audited minimal 3 tahun yang mana 2 tahun dengan Opini Wajar Tanpa Modifikasian. 
  • Ukuran keuangan berupa aktiva berwujud bersih lebih dari Rp100 miliar. 
  • Jumlah saham yang ditawarkan pada publik minimal 300 juta saham dengan ketentuan: < Rp500 miliar sebesar 20%, Rp500 miliar-Rp2 triliun sebsar 15%, dan lebih dari Rp2 triliun sebesar 10%.
  • Memiliki pemegang saham lebih dari 1.000 pihak.

Papan Pengembangan

Suatu perusahaan yang ingin masuk dalam daftar Papan Pengembangan harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti:

  • Memiliki badan hukum berupa PT atau Perseroan Terbatas.
  • Masa operasional perusahaan lebih dari sama dengan 12 bulan.
  • Laba usaha boleh rugi dengan syarat proyeksi tahun ke-2 sampai tahun ke-6 laba usaha dan laba bersih.  
  • Laporan keuangan audited minimal 12 bulan yang mana 1 tahun dengan Opini Wajar Tanpa Modifikasian. 
  • Ukuran keuangan berupa aktiva berwujud bersih lebih dari Rp5 miliar atau laba usaha ≥ Rp1 miliar dan nilai kapitalisasi saham ≥ Rp100 miliar atau pendapatan usaha ≥ Rp40 miliar dan nilai kapitalisasi saham ≥ Rp200 miliar. 
  • Jumlah saham yang ditawarkan ke publik minimal 150 juta saham, dengan ketentuan < Rp500 miliar sebesar 20%, Rp500 miliar-Rp2 triliun sebesar 15%, dan lebih dari Rp2 triliun sebesar 10%.
  • Memiliki pemegang saham lebih dari 500 pihak.

JIka dilihat saksama, salah satu syarat untuk dapat melantai di bursa adalah perusahaan sudah harus memiliki Badan Hukum berbentuk Perseroan Terbatas atau PT.

Untuk lebih detailnya, Perseroan Terbatas tersebut juga sudah harus memiliki:

  • Komisaris Independen minimal 30% dari jajaran Dewan Komisaris. 
  • Direktur Independen minimal 1 orang dari jajaran anggota Direksi.
  • Komite Audit.
  • Unit Audit Internal. 
  • Sekretaris Perusahaan.

Perusahaan yang akan melakukan IPO juga harus mempersiapkan beberapa dokumen, yaitu:

  • Profil perusahaan, informasi tentang rencana IPO, underwriter, dan profesi penunjang;
  • Pendapat dan laporan pemeriksaan dari segi hukum dari Konsultan Hukum;
  • Laporan Keuangan yang diaudit Akuntan Publik;
  • Laporan Penilai (jika ada);
  • Anggaran Dasar perusahaan terbuka perusahaan yang telah disetujui Menteri Hukum dan HAM;
  • Prospektus, yang berisikan antara lain informasi yang terdapat pada dokumen (a) sampai dengan (e) di atas;
  • Proyeksi keuangan.

Tata cara melakukan IPO

Untuk melakukan IPO, suatu perusahaan harus melakukan beberapa prosedur yang cukup panjang. Prosesnya diawali dengan persiapan awal hingga pencatatan saham di BEI.

Untuk proses lengkapnya, kamu bisa simak ulasan berikut.

  1. Persiapan awal dan persiapan dokumen oleh Tim Internal perusahaan dibantu underwriter dan Profesi Penunjang.
  2. Penyampaian permohonan perjanjian pendahuluan pencatatan saham ke BEI dan pendaftaran saham ke KSEI.
  3. Perjanjian pendahuluan pencatatan saham diberikan pihak BEI. 
  4. Penyampaian pernyataan pendaftaran ke OJK.
  5. Izin publikasi prospektus ringkas diberikan OJK.
  6. Pengumuman prospektus ringkas di surat kabar dan juga penawaran awal (bookbuilding) dan public expose.  
  7. Penyampaian informasi harga dan keterbukaan lain ke OJK.
  8. Pernyataan efektif kemudian diberikan OJK.
  9. Pengumuman perbaikan atau tambahan prospektus ringkas di surat kabar penyediaan prospektus. 
  10. Penyampaian permohonan pencatatan saham ke BEI.
  11. Penawaran umum saham kepada masyarakat atau publik.
  12. Persetujuan pencatatan saham diberikan BEI.
  13. Pencatatan dan perdagangan saham di BEI secara resmi telah selesai diproses.

Perbedaan penawaran umum IPO dan e-IPO

Baik IPO maupun e-IPO, keduanya sama-sama proses penawaran saham perdana suatu perusahaan kepada publik. Namun, dalam prosesnya, IPO dan e-IPO ini memiliki beberapa perbedaan, yaitu:

1. Penyediaan dana

Penyediaan dana IPO berada pada rekening penampung, sedangkan pada e-IPO penyediaan dana dapat diambil langsung dari rekening yang sama di pasar sekunder.

Selain itu, pada IPO, seorang investor biasanya akan mendapatkan pengembalian dana setelah alokasi pesanan selesai.

Sementara pada e-IPO, dana akan diambil berdasarkan hasil penjualan saja. Hal ini tentu akan lebih efektif sebab tidak adanya opportunity cost dari dana-dana yang mengendap.

2. Partisipasi perusahaan efek 

Pada proses IPO, pihak yang diperbolehkan mengikuti penawaran umum adalah penjamin emisi pelaksana dan sindikasi saham saja.

Akan tetapi, pada e-IPO, semua perusahaan efek akan dapat mengikuti proses penawaran umum saham. 

3. Informasi IPO

Dahulu cukup sulit untuk mendapatkan berbagai update informasi mengenai IPO. Sebab tidak ada kanal khusus untuk menampung informasi tersebut.

Saat ini setelah mulai diberlakukan e-IPO, semua informasi dapat diakses dengan cepat dan mudah. Sebab sudah tersedia satu laman atau situs khusus yang memuat semua IPO yang sedang berlangsung.

4. Sistem penjatahan

Untuk sistem penjatahan sendiri, pada IPO, yang berhak mendapatkan penjatahan pasti adalah penjamin emisi saja. Sementara dengan adanya e-IPO, semua penjatahan tetap.

IPO juga tidak mengatur penjatahan atau penjualan terpusat, sedangkan pada e-IPO, ada aturan minimum untuk porsi penjatahan terpusat.

5. Proses pemesanan

Proses pemesanan IPO dilakukan dengan cara manual. Sementara pada e-IPO, proses pemesanan dilakukan dengan cara online yaitu mengisi e-form pada e-IPO.

Selain itu, pada proses IPO, tidak ada aturan untuk memiliki RDN, SRE, ataupun SID. Berkebalikan dengan e-IPO yang mewajibkan setiap investor individu untuk memiliki RDN, SRE, dan SID.

Cara beli saham IPO secara online di e-IPO

Initial Public Offering (IPO) &#8211; Cara Mencatatkan Saham di BEI

Terhitung banyak perusahaan yang sudah dan akan melakukan IPO tahun ini. Beberapa perusahaan sudah melakukan IPO baru-baru ini adalah Bukalapak dan yang terhangat akan segera dibuka adalah IPO GoTo.

Jika kamu juga berminat untuk membeli saham IPO, pahami dulu yuk bagaimana cara membelinya secara online!

1. Registrasi terlebih dahulu

Langkah pertama sebelum membeli saham IPO adalah dengan melakukan registrasi atau pendaftaran. Proses registrasi ini dilakukan dengan memasukkan alamat email dan informasi tipe investor (institusi atau individu). 

Setelah berhasil, kamu harus melakukan authentication email dan memasukkan kode OTP yang sudah dikirimkan. Jangan lupa untuk memasukkan password kamu ya!

2. Verifikasi

Proses verifikasi dilakukan dengan cara memilih sekuritas. Kemudian registrasi Single Investor Identification (SID) bagi yang sudah memiliki nomor SID.

Jika investor belum memiliki SID, bisa melakukan registrasi Sub Rekening Efek (SRE). Selanjutnya adalah kamu harus melakukan verifikasi sekuritas dan login untuk bisa memesan saham IPO di laman e-IPO.

3. Submitted

Setelah berhasil melakukan login, langkah selanjutnya adalah melihat dan memilih saham yang sedang IPO. Tekan menu atau tombol “Place Order” lalu isi formulir pemesanan.

Jika sudah diisi dengan lengkap, klik “Send” lalu masukkan kode OTP yang dikirimkan.

4. Rekening Dana Nasabah (RDN)

Pastikan bahwa kamu sudah memiliki saldo di RDN sejumlah dana yang mencukupi untuk transaksi. Perusahaan akan mengirimkan email persetujuan untuk proses pembelian saham.

Jika proses verifikasi sudah selesai, pembelian saham IPO sudah dapat langsung disetujui. Jangan lupa untuk membaca dengan detail serta menyetujui prospektus pada masa bookbuilding!

5. Penerimaan saham IPO

Jika kamu sudah teregistrasi, penjatahan dari proses pembelian dapat dilihat dengan mengklik menu ‘history’. Di sini kamu akan menemukan status pemesanan saham. 

Status “Allotted” menunjukkan kamu memperoleh saham sesuai pesanan. Status “Allotted with Scale” berarti kamu mendapatkan penjatahan saham yang akan disesuaikan.

Sementara jika tertulis “Not Allotted” berarti kamu tidak mendapatkan penjatahan.

Jika kamu menemukan status Not Carried Over berarti saham IPO yang sudah dipesan tersebut tidak dapat dilanjutkan ke proses penjatahan.

FAQ

Apa itu IPO?

IPO atau Initial Public Offering adalah proses penawaran umum saham perdana suatu perusahaan ke publik.

Bagaimana cara cek daftar saham IPO?

Untuk melihat daftar saham IPO, kamu bisa kunjungi laman www.idx.co.id. Selanjutnya kamu bisa masuk ke menu Perusahaan Tercatat dan kemudian masuk ke menu Aktivitas Pencatatan.