Reksadana Pendapatan Tetap, Mekanisme Kerja dan Risikonya

Reksadana pendapatan tetap sebenarnya sama seperti bentuk reksa dana lainnya yaitu wadah atas dana para investor. Pada RDPT, perbedaan terletak pada alokasi portofolio investasinya.

Kenapa sih disebut reksa dana “pendapatan tetap”? Jadi, reksadana ini memberikan imbal hasil yang ditawarkan oleh obligasi bersifat tetap, sesuai dengan kupon yang diberikan. Makanya, investasi ini masuk dalam golongan konservatif – moderat.

Agar lebih jelas, simak informasi lengkap seputar reksadana pendapatan tetap di artikel berikut.

Apa itu reksadana pendapatan tetap?

Reksadana Pendapatan Tetap, Mekanisme Kerja dan Risikonya

Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang sebagian besar alokasi investasinya ditempatkan pada efek utang yang memberikan investor pendapatan tetap.

Contoh dari RDPT adalah surat utang atau obligasi yang jatuh temponya lebih dari 1 tahun, baik yang diterbitkan korporasi swasta maupun pemerintah. Reksadana pendapatan tetap juga dikenal dengan fixed income fund.

Kenapa disebut pendapatan tetap? Hal tersebut dikarenakan surat utang atau obligasi tersebut memberi pengembalian yang pasti secara rutin, misalnya sebulan, 3 atau 6 bulan sekali.

Investasi minimal pada RDPT adalah 80% dari aset yang dimiliki atau aktiva. Dalam hal ini, yang bertugas  menginvestasikan atau memutar modal milik kamu adalah Manajer Investasi (MI). Dia jugalah yang memegang kendali dan mengelola dana tersebut.

Selain konsep konvensional, terdapat juga reksadana pendapatan tetap syariah yang menempatkan dana pada efek syariah yang berpendapatan tetap.

Di dalamnya termasuk sukuk jangka menengah dan panjang serta dengan risiko yang terukur, berdasarkan prinsip syariah di pasar modal.

Dengan minimum 80 persen di instrumen pendapatan tetap dan instrumen pasar uang maksimum 20 persen dari total dana kelolaan. Pedoman reksadana ini tentu berpegangan pada prinsip syariah Islam dengan hasil investasi yang bersih dari unsur riba dan gharar.

Oh iya, reksadana jenis ini cocok buat kamu yang ingin investasi jangka menengah (1 hingga 3 tahun). Fixed income fund memiliki tingkat risiko di atas reksadana pasar uang.

Risiko RDPT syariah berada di kisaran konservatif hingga menengah, tergantung dari strategi investasi reksadana tersebut serta seberapa besar eksposurnya terhadap risiko wanprestasi.

Mekanisme investasi reksadana pendapatan tetap

Cara kerja rekdadana pendapatan tetap seperti contoh berikut ini:

Kamu berinvestasi sebesar Rp1 juta pada reksadana X dengan harga Rp895 per unit. Unit penyertaan yang akan dapatkan adalah sebanyak 1.117,32 unit.

Dua tahun kemudian, harga NAB menjadi Rp1.100 per unit, berarti keuntungan yang kamu peroleh adalah:

= 1.117,32 unit x Rp 1.100

= Rp1.229.052

= Rp1.229.052 – Rp 1.000.000

= Rp229.052.

Dengan begitu, kamu mendapat untung sebesar Rp229.052 atau sama dengan 22,9%.

Contoh lain: Kamu membeli reksadana senilai Rp1 juta. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana dari sekuritas yang kamu pilih sebesar Rp1.040 per unit, berarti kamu memiliki 961,54 unit.

Manajer investasi akan menginvestasikannya ke Sukuk Ritel dengan tenor 3 tahun. MI juga memutar lagi kupon atau imbal hasil atau capital gain dari selisih harga jual dan beli jika Sukuk Ritel tersebut dijual.

Tujuannya manajer investasi melakukan hal tersebut adalah agar hasil investasi atau keuntungan fixed income fund kamu lebih optimal.

Sebagai informasi, NAB adalah total nilai investasi dalam produk reksadana, yang menggambarkan total kekayaan bersih reksadana setiap harinya sesuai dengan hari perdagangan bursa.

Keuntungan reksadana pendapatan tetap

Diketahui, risiko reksadana pendapatan tetap lebih tinggi daripada reksa dana pasar uang (RDPU), tetapi lebih rendah daripada reksa dana saham (RDS).

Investor akan memperoleh pendapatan tetap secara berkala dan rutin dari instrumen investasi ini dalam bentuk kupon bunga pinjaman.

Ada sejumlah keuntungan yang bisa kamu nikmati saat memiliki reksadana pendapatan tetap, di antaranya:

  • Peningkatan diversifikasi pengelolaan dana. Maksudnya adalah dana yang ditanamkan investor disalurkan ke berbagai macam jenis instrumen investasi. Alhasil, langkah tersebut dapat meminimalisir risiko yang akan ditanggung investor.
  • Penyaluran dana bersifat likuid dan waktu pencairan bersifat fleksibel. Ini berarti pemegang fixed income fund bisa menjual reksadananya dengan harga nilai aktiva bersih (NAB) pada hari yang sama saat reksadana dibeli.
  • Reksadana dikelola oleh Manajer Investasi yang resmi terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
  • Kebijakan dan ketentuan dalam reksa dana diatur oleh pemerintah
  • Uang yang diinvestasikan dijamin keamanannya
  • Transparansi
  • Semua perusahaan reksa dana wajib melaporkan informasi kepada semua investor
  • Minim wanprestasi

Risiko reksadana pendapatan tetap

Kalau dilihat-lihat dari karakteristiknya, nilai reksa dana pendapatan tetap memang terbilang fluktuatif atau naik turun. Tapi tenang saja, sifatnya tersebut tidak seperti saham atau reksadana saham.

Dengan kata lain, risiko dari reksa dana pendapatan tetap ada di atas reksadana pasar uang, tetapi di bawah reksadana saham. Jadi, risiko RDPT ada di tingkat menengah.

Meskipun ada di kelas menengah, tidak sedikit pakar yang menyebutkan bahwa reksadana ini cocok bagi investor dengan karakteristik risiko konservatif yang cenderung ingin menghindari risiko dan tetap menginginkan pengembalian yang lebih tinggi.

Secara psikologis, investor-investor dengan profil seperti ini akan merasa lebih nyaman saat melihat modal awal investasi yang diserahkan tidak tergerus.

Oh berbicara tentang sifatnya yang fluktuatif, apa sih sebenarnya penyebabnya? Jadi, salah satu penyebab fluktuatifnya NAB reksadana pendapatan tetap adalah pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Jika BI memangkas suku bunga acuannya, maka penerbitan obligasi baru akan mengakibatkan nilai kupon yang rendah. Alhasil, investor akan berburu obligasi lama dengan kupon yang lebih baik.

Sesuai hukum ekonomi, maka permintaan yang tinggi akan membuat harga obligasi lama tersebut terkerek naik. Hal lain yang menyebabkan perubahan imbal hasil reksadana pendapatan tetap adalah hasil pemeringkatan surat utang.

Biasanya setiap bulan atau tiga bulan sekali, lembaga pemeringkat utang merangking hasil peringkat utang atas obligasi yang sudah beredar.

Semakin baik hasil peringkatnya, maka semakin kecil juga risikonya bagi investor akibat potensi gagal bayar. Begitu pun sebaliknya.

Cara memilih reksadana pendapatan tetap

Reksadana Pendapatan Tetap, Mekanisme Kerja dan Risikonya

Memilih reksa dana pendapatan tetap gak boleh sembarangan, sama seperti jenis reksadana lainnya. Jika kamu tertarik dengan investasi ini, jangan lupa ikuti caranya agar imbal balik bisa maksimal dan sesuai keinginan.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu kamu terapkan saat memilih reksa dana pendapatan tetap terbaik. Yuk, disimak!

1. Tentukan besar investasi setiap bulan

Beberapa perencana keuangan menetapkan 20 persen dari pendapatan bulanan adalah porsi yang tepat untuk berinvestasi. Ada pula yang menetapkan 30 persen. Tapi, gak usah bingung, semua itu ada di tangan kamu.

Sebelum berinvestasi, ada baiknya kamu mulai menghitung pengeluaran rutin bulanan yang wajib, termasuk cicilan. Selanjutnya, tentukan nominal yang paling tepat dan nyaman. Jangan sampai nominal tersebut tidak memberatkan hidup selama sebulan.

Misalnya, penghasilan perbulan yang kamu dapatkan adalah Rp5 juta, belum berkeluarga, dan masih tinggal di rumah orang tua. Mungkin 20 persen dari gaji atau Rp1 juta per bulan bisa kamu sisihkan untuk investasi.

Setiap orang berbeda-beda kebutuhannya. Angka di atas pun pasti tidak sama dengan mereka yang sudah berkeluarga.

2. Pilih produk yang sesuai profil risiko

Reksadana pendapatan tetap memang memiliki risiko menengah. Bagi kamu yang ingin berinvestasi jangka panjang dengan imbal hasil besar, tidak ada salahnya memilih RDPT.

Ingat ya kalau investasi selalu memiliki risiko rugi, baik itu risiko kecil, sedang, atau besar, pasti ada risiko ruginya. Jadi, siapkan diri kamu jika risiko tersebut terjadi saat berinvestasi.

3. Pilih manajer investasi yang terdaftar resmi di OJK

Jangan sampai tertipu saat berinvestasi. Kamu harus memastikan kalau manajer investasi yang bakal mengelola dana milik kamu sudah terdaftar dan punya izin dari OJK. Cobalah cek situs resmi OJK untuk mengetahui informasi daftar manajer investasi yang aman.

4. Tentukan tujuan investasi

Tujuan investasi berperan penting dalam membantu dan memotivasi kamu untuk konsisten menyisihkan penghasilan bulanan.

Dengan mengetahui tujuan investasi yang jelas, kamu bisa menetapkan investasi yang lebih sesuai dan bakal memberikan imbal hasil yang bisa saja lebih besar.

5. Konsistensi

Salah satu kunci sukses mendapatkan imbal hasil yang maksimal dalam berinvestasi adalah konsisten menyisihkan pendapatan.

Instrumen investasi jenis manapun tidak akan memberikan hasil maksimal jika kamu labil dan tidak konsisten menyisihkan sebagian penghasilan untuk berinvestasi.

Mulai tertarik investasi reksa dana pendapatan tetap? Kalau iya, jangan lupa baca baik-baik informasi di atas ya agar kamu bisa maksimal melakukannya dan imbal hasil optimal didapatkan.

Pertanyaan seputar reksadana pendapatan tetap

Apa itu Reksa Dana pendapatan tetap?

Reksadana pendapatan tetap adalah jenis reksadana yang sebagian besar alokasi investasinya ditempatkan pada efek utang yang memberikan investor pendapatan tetap.

Apakah reksadana pendapatan tetap menguntungkan?

Ya, berikut daftar keuntungan reksadana pendapatan tetap:

  • Peningkatan diversifikasi pengelolaan dana
  • Penyaluran dana bersifat likuid dan waktu pencairan bersifat fleksibel
  • Reksadana dikelola oleh Manajer Investasi yang resmi terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
  • Kebijakan dan ketentuan dalam reksa dana diatur oleh pemerintah
  • Uang yang diinvestasikan dijamin keamanannya
  • Transparansi
  • Semua perusahaan reksa dana wajib melaporkan informasi kepada semua investor
  • Minim wanprestasi

Apa risiko RDPT?

Kalau dilihat-lihat dari karakteristiknya, nilai reksa dana pendapatan tetap memang terbilang fluktuatif atau naik turun. Tapi tenang saja, sifatnya tersebut tidak seperti saham atau reksadana saham. Dengan kata lain, risiko dari reksadana pendapatan tetap ada di atas reksadana pasar uang, tetapi di bawah reksadana saham. Jadi, risiko RDPT ada di tingkat menengah.