Saving Bond Ritel – Pengertian, Karakteristik dan Cara Membeli

Saving Bond Ritel (SBR) adalah salah satu jenis obligasi berupa surat berharga negara yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia dan ditawarkan kepada masyarakat atau individu. 

Sama seperti produk obligasi lainnya, Saving Bond Ritel (SBR) juga menjadi salah satu instrumen investasi yang diterbitkan dengan tujuan menghimpun dana untuk membantu menjalankan perekonomian negara dan mendukung pembangunan. 

Berbeda dengan produk obligasi seperti Surat Utang Negara (SUN) atau Surat Berharga Negara (SBN) yang bisa diperjualbelikan di pasar sekunder, SBR tidak bisa diperjual belikan.

SBR hanya akan ditawarkan oleh negara pada masyarakat pada waktu-waktu tertentu saja dan disimpan (seperti tabungan dan deposito) sampai tanggal jatuh tempo tiba. 

Namun, untuk SBR ini, ada fasilitas bernama early redemption, di mana kamu bisa mencairkan SBR sebelum tanggal jatuh tempo. Biasanya pencairan bisa dilakukan setelah satu tahun berinvestasi. 

Keuntungan yang didapatkan dari Saving Bond Ritel ini adalah kupon bunga seperti produk obligasi lainnya.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi dengan SBR, sebaiknya kamu simak dulu nih informasi lengkap terkait investasi SBR, istilah-istilahnya serta cara membelinya. 

Pengertian Saving Bond Ritel (SBR)

Saving Bond Ritel – Pengertian, Karakteristik dan Cara Membeli

Menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang dimaksud dengan Saving Bond Ritel (SBR) adalah salah satu jenis Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan oleh pemerintah untuk Warga Negara Indonesia (WNI) guna menghimpun dana untuk melakukan pembangunan dan peningkatan perekonomian nasional. 

Pengertian Saving Bond Ritel (SBR) juga merupakan instrumen investasi yang menguntungkan dan aman karena diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara. 

Lalu, apakah Saving Bond Ritel di dalam Islam hukumnya halal? Produk Saving Bond Ritel (SBR) dalam pengelolaannya diatur oleh undang-undang, namun skemanya tidak sesuai dengan hukum agama Islam.

Untuk kamu yang ingin berinvestasi obligasi dengan jaminan halal dari MUI, kamu bisa mencoba produk Sukuk, yakni obligasi syariah. Pengelolannya pun diatur dalam undang dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.

Dasar hukum Saving Bond Ritel (SBR)

Ketentuan-ketentuan mengenai pelaksanaan Saving Bond Ritel diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.

Dalam Undang-Undang disebutkan apabila Surat Utang Negara termasuk SBR diterbitkan dalam bentuk warkat atau tanpa warkah. 

Dalam aturannya, penerbitan SBR sendiri harus mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mengetahui berapa anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan pembangunan serta meningkatkan perekonomian negara.

Saat menerbitkan Surat Utang Negara seperti SBR, pun harus jelas ketentuannya, seperti berapa nominalnya, kapan tanggal jatuh tempo dan pembayarannya, nilai kupon binga, frekuensi pembayaran bunga, hingga cara perhitungannya. 

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, Saving Bond Ritel (SBR) sendiri diterbitkan dengan tujuan sebagai berikut ini:

  • Untuk membiayai kekurangan APBD
  • Mengelola portofolio utang negara
  • Menutup kekurangan kas jangka pendek

Karakteristik Saving Bond Ritel (SBR)

SBR atau Saving Bond Ritel sendiri memiliki karakteristik yang membedakan dengan jenis obligasi lainnya seperti ORI atau Sukuk. Berikut ini beberapa karakteristiknya. 

1. Modal terjangkau 

Apabila kamu ingin berinvestasi SBR, modal yang kamu butuhkan tidak terlalu banyak dan terjangkau. Dengan nominal Rp1 juta, kamu sudah bisa berinvestasi sekaligus berkontribusi untuk negara. 

SBR biasanya akan ditawarkan oleh Kementerian Keuangan melalui Mitra Distribusi seperti lembaga perbankan dan non-bank yang sudah ditunjuk.

2. Khusus untuk WNI

SBR ini juga ditawarkan khusus individu Warga Negara Indonesia. Produk SBR tidak bisa diperjualbelikan untuk warga negara asing. 

Hal ini dilakukan agar jumlah investor di dalam negeri semakin banyak sehingga mampu mendukung pasar uang domestik lebih stabil, serta mendorong masyarakat Indonesia untuk berinvestasi dalam jangka panjang. 

3. Tanggal jatuh tempo 2 tahun

Tanggal jatuh tempo yang ditentukan adalah sekitar 2 tahun. Berbeda dengan jenis surat utang lainnya yang bisa mencapai hingga 5 tahun. SBR juga tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder. 

4. Tingkat bunga mengambang

Apabila ORI memiliki tingkat bunga tetap, SBR tingkat bunganya mengambang. Artinya, kupon bunga pada SBR sudah ditentukan tingkat bunga minimalnya, namun pada waktu tertentu bisa mengalami perubahan sesuai dengan perubahan suku bunga Bank Indonesia 7 DRRR. 

Dibandingkan ORI, kupon minimal SBR lebih tinggi. Untuk SBR010 yang akan ditawarkan ini nilai kupon mengambangnya adalah 5,10 per tahun. 

Meskipun nantinya suku bunga mengalami fluktuasi, saat mengalami penurunan, kupon bunga nilai terendahnya adalah 5,10 per tahun hingga tanggal jatuh tempo selesai. 

5. Bisa melakukan early redemption

Karakteristik lain dari SBR adalah adanya fasilitas early redemption, di mana kamu bisa mencairkan investasimu sebagian sebelum tanggal jatuh tempo yang sudah disepakati berakhir.

Jumlah maksimal dari fasilitas early redemption adalah 50% dari total yang diinvestasikan. Fasilitas ini juga hanya bisa digunakan apabila nilai investasi minimal Rp2 juta. 

Istilah Saving Bond Ritel (SBR)

Sebelum memutuskan membeli produk SBR, ada baiknya kamu memahami beberapa istilah penting. Agar saat membaca ketentuan-ketentuan yang diberikan, kamu tidak salah mengartikan.

1. Kupon

Kupon bisa juga disebut sebagai bunga atau imbal hasil yang akan kamu peroleh setelah membeli SBR. Pada SBR, kupon biasanya akan dibayarkan setiap satu bulan sekali.

2. Floating with floor

Dalam SBR, ada istilah floating with floor yang artinya adalah kupon mengambang. Seperti yang sudah dijelaskan, apabila nilai kupon yang ditentukan pada SBR bersifat mengambang sesuai dengan suku bunga Bank Indonesia. 

Namun, tak perlu khawatir karena sudah ada kupon minimal, sehingga saat bunga turun, kupon yang kamu dapatkan nggak kecil-kecil amat. 

3. Masa penawaran

Waktu yang ditentukan oleh penerbit SBR, yakni Kemenkeu dalam menawarkan produk SBR serta nominal yang ditentukan. Kamu bisa langsung memesannya pada tanggal-tanggal tertentu yang sudah ditentukan. 

4. Jatuh tempo

Jatuh tempo adalah berapa lama waktu untuk melakukan investasi SBR. Uang modal yang kamu gunakan untuk membeli SBR akan segera dikembalikan oleh pemerintah sesuai dengan tanggal jatuh tempo.

Misalnya waktu membeli adalah 1 Oktober 2021 dan jatuh tempo dua tahun, maka seluruh uangmu akan kembali di tanggal 30 September 2023.

5. Settlement

Settlement adalah waktu yang ditentukan untuk perhitungan kupon. Sebagai contoh, kamu sudah memesan Saving Bond Ritel di masa penawaran dan resmi menjadi investor. 

Kemudian ditentukan tanggal setelmen dua hari setelah menjadi investor, maka perhitungan kupon segera dilakukan. 

6. Kuota

Kuota adalah batas investasi yang ditentukan oleh pemerintah, di mana 1 individu bisa melakukan investasi mulai dari Rp1 juta dan maksimal adalah Rp3 miliar. 

Jadi, kamu tidak bisa berinvestasi lagi apabila sudah membeli SBR sebanyak Rp3 miliar.

Dalam SBR Saving Bond Ritel ada juga kuota nasional yang sudah ditentukan berdasarkan anggaran yang dibutuhkan. Sebagai contoh pada SBR005, kuota nasional mencapai Rp5 triliun.

7. Early redemption

Early redemption adalah fasilitas pada SBR di mana kamu bisa mencairkan investasimu sebagian sebelum tanggal jatuh tempo yang sudah ditentukan.

Kamu bisa menggunakan fasilitas ini dengan total pencairan maksimal 50% dengan investasi minimal Rp2 juta. 

8. Mitra distribusi

Adalah lembaga keuangan atau non-keuangan yang ditunjuk langsung oleh Kementerian Keuangan untuk menjual SBR. 

Cara investasi SBR Saving Bond Ritel

Saving Bond Ritel – Pengertian, Karakteristik dan Cara Membeli

Setelah membaca artikel ini, kamu mungkin akan tertarik untuk melakukan investasi Saving Bond Ritel. Berikut ini tata cara membelinya.

1. Registrasi 

Melakukan registrasi secara online melalui Mitra Distribusi yang sudah ditunjuk oleh Kementerian Keuangan RI. Kemudian mengisi data diri disertai dengan nomor SID atau Single Investor Identification. Apabila kamu belum memiliki nomor SID, kamu bisa mendaftarkannya pada Mitra Distribusi yang bersangkutan.

2. Pesan SBR

Setelah selesai registrasi, segera memesan produk SBR sesuai dengan nominal yang sudah disiapkan. 

Pastikan kamu membaca dengan benar ketentuan-ketentuan dari investasi SBR, sehingga kamu lebih paham dan tidak merasa tertipu. 

Setelah setuju dengan ketentuannya, kamu bisa langsung memesan produk SBR sesuai dengan nominal yang sudah dipersiapkan. 

3. Membayar SBR

Apabila proses pemesanan selesai, kamu bisa membayar SBR melalui ATM, teller, m-banking, atau internet banking dengan memasukkan kode pembayaran yang diberikan Mitra Distribusi. 

4. Mendapatkan konfirmasi

Setelah pembayaran selesai, kamu akan mendapatkan konfirmasi, yakni berupa Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) serta pemberitahuan bahwa pembayaran kamu berhasil diterima. 

Kamu juga akan mendapatkan informasi terkait tanggal setelmen serta alokasi SBR yang sudah kamu beli. 

FAQ seputar Saving Bond Ritel

Apa itu Saving Bond Ritel?

Menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang dimaksud dengan Saving Bond Ritel (SBR) adalah salah satu jenis Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan oleh pemerintah untuk Warga Negara Indonesia (WNI) guna menghimpun dana untuk melakukan pembangunan dan peningkatan perekonomian nasional. 

Apakah Saving Bond Ritel halal?

Produk Saving Bond Ritel (SBR) dalam pengelolaannya diatur oleh undang-undang, namun skemanya tidak sesuai dengan hukum agama Islam.

Untuk kamu yang ingin berinvestasi obligasi dengan jaminan halal dari MUI, kamu bisa mencoba produk Sukuk, yakni obligasi syariah. Pengelolannya pun diatur dalam undang dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.

Kapan SBR 2021 diterbitkan?

Penerbitan SBR 2021 sudah dilakukan pada tanggal 21 Juni 2021 lalu. Namun, kamu bisa kok membeli jenis obligasi lainnya seperti ST008 yang akan diterbitkan mulai 1 November 2021.