Sukuk – Manfaat, Jenis, Contoh, dan Cara Membelinya

Apa itu sukuk? Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sukuk adalah efek syariah dalam wujud sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak terpisahkan (syuyu’/undivided share) atas aset yang mendasarinya (underlying asset).

Underlying asset adalah aset yang dijadikan sebagai objek atau dasar atas penerbitan sukuk atau surat berharga syariah. Contoh underlying asset adalah tanah, bangunan, proyek bangunan, atau jasa, dan hak manfaat atas aset.

Obligasi Pemerintah atau Surat Berharga Negara dibagi menjadi dua:

  • Surat Utang Negara (SUN)
  • Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

Surat Berharga Syariah Negara kemudian terbagi menjadi:

  • Sukuk Ritel
  • Sukuk Tabungan

Menurut Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), surat berharga syariah harus dikelola berdasarkan prinsip syariah, tidak mengandung unsur maysir (judi), gharar (ketidakjelasan), dan riba (usury).

Manfaat sukuk dan imbal hasilnya

Sukuk – Manfaat, Jenis, Contoh, dan Cara Membelinya

Surat berharga syariah memiliki beberapa manfaat, yaitu:

  1. Surat berharga syariah bisa dimiliki pihak investor ritel dengan nilai yang lebih rendah dan termasuk jenis investasi yang mudah untuk dicairkan.
  2. Untuk pihak penerbit, surat berharga syariah bisa dijadikan sebagai pilihan sumber modal. Hasil dari penjualan bisa dijadikan tambahan modal untuk perusahaan penerbit.
  3. Surat berharga syariah juga bisa diterbitkan pihak Pemerintah. Surat berharga syariah yang diterbitkan Pemerintah tergolong Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
  4. Sudah terjamin tingkat keamanannya dalam Pasal 5 Undang-Undang SBSN.

Imbal hasil

Imbal hasil yang ada dalam surat berharga syariah dibedakan menjadi empat, yaitu:

1. Profit Sharing

Profit sharing bisa dilakukan dengan akad mudharabah. Imbal hasil bisa dibayar secara reguler hingga tanggal jatuh tempo dan sudah ditetapkan dalam nilai persentase dari nominal nilai.

2. Capital Gain

Bisa diperoleh sebelum jatuh tempo dan umumnya surat berharga syariah diperjualbelikan di pasar sekunder (kecuali sukuk tabungan).

Pihak investor memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan capital gain dan capital gain juga bisa diperoleh investor jika membeli surat berharga syariah dengan diskon.

3. Hak Klaim Pertama

Jika emiten dinyatakan bangkrut atau dilikuidasi, pemegang surat berharga syariah sebagai pihak kreditur mempunyai hak klaim pertama atas aktiva milik perusahaan.

4. Surat berharga syariah dapat dikonversi menjadi saham

Investor bisa menukarkan surat berharga syariah menjadi saham pada suatu harga yang sudah ditetapkan. Lalu investor bisa mendapatkan keuntungan atas saham tersebut.

Cara kerja sukuk

Karena ada surat berharga syariah yang termasuk surat berharga negara, berikut ini dua cara untuk mendapatkan surat berharga syariah negara, yaitu:

1. Melalui mekanisme pasar perdana

Kamu dapat membeli langsung ke agen yang ditunjuk resmi oleh negara untuk melakukan jual beli surat berharga syariah. Syarat yang perlu dilengkapi cukup sederhana.

Setelah menghubungi agen penjualan surat berharga syariah, kamu bisa melakukan pengisian formulir yang telah disediakan pihak agen penjual.

Lampirkan persyaratan terkait data diri dan kependudukan, seperti KTP dan beberapa dokumen lain sebagaimana yang diminta dan diperlukan pihak keagenan.

Mekanisme berikutnya adalah mekanisme keuangan, seperti:

  • Melakukan transfer dana sesuai dengan jumlah yang ingin dibeli.
  • Penerimaan tanda bukti kepemilikan.
  • Melakukan pengambilan sisa dana yang ditransfer apabila jumlah surat berharga syariah yang diterbitkan pihak emiten tidak mencukupi sebagaimana jumlah dana yang diberikan.
  • Memperoleh penjatahan.
  • Menunggu proses investasi bergulir sebagaimana tenor yang diajukan emiten.

2. Melalui mekanisme pasar sekunder

Pembelian dilakukan melalui mekanisme sebagaimana yang ada dalam proses pembelian obligasi, yaitu melalui bursa atau perbankan.

Proses memakan waktu kurang lebih 2 minggu hingga pihak pembeli surat berharga syariah mendapatkan apa yang disebut dengan Surat Konfirmasi Kepemilikan Sukuk yang dikeluarkan pihak bursa atau bank umum sesuai dengan mekanisme sekunder yang diikuti.

Jenis sukuk dan contohnya

Sukuk – Manfaat, Jenis, Contoh, dan Cara Membelinya

Surat berharga syariah dapat dibagi menjadi empat tinjauan utama, yaitu berdasarkan jenis akad, penerbit, pembagian atau pendapatan hasil, dan basis aset.

1. Berdasarkan jenis akad

Surat berharga syariah dapat dibagi menjadi 10 jenis, yaitu:

  • Sukuk Ijarah (kepemilikan aset berwujud yang disewakan, kepemilikan manfaat, kepemilikan jasa). Sukuk ijarah merupakan sertifikat surat berharga syariah yang dikeluarkan berdasarkan aset-aset tertentu yang sah dan mempunyai nilai ekonomis, terdiri dari petak tanah, bangunan dan barang-barang lainnya masuk dalam kategori aset berharga.
  • Sukuk Mudharabah. Surat berharga syariah yang merepresentasikan suatu proyek atau kegiatan usaha yang dikelola berdasarkan akad mudharabah, dengan menunjuk salah satu partner atau pihak lain sebagai mudharib (pengelola usaha) dalam melakukan pengelolaan usaha tersebut.
  • Sukuk Istishna’. Surat berharga syariah yang diterbitkan untuk menghimpun dana untuk produksi suatu barang sehingga barang yang dihasilkan menjadi milik pemegang surat berharga syariah.
  • Kafalah. Akad pemberian jaminan yang diberikan penjamin (kafil) kepada penerima jaminan (makfuul) dan penjamin bertanggung jawab atas pemenuhan kembali suatu kewajiban yang menjadi hak penerima jaminan.
  • Sukuk Musyarakah. Surat berharga syariah yang diterbitkan dengan tujuan memperoleh dana untuk menjalankan proyek baru, mengembangkan proyek yang sudah berjalan, atau untuk membiayai kegiatan bisnis yang dilakukan berdasarkan akad musyarakah sehingga pemegang surat berharga syariah menjadi pemilik proyek atau aset kegiatan usaha tersebut sesuai dengan kontribusi dana yang diberikan.
  • Sukuk Wakalah. Surat berharga syariah yang mewakili suatu proyek atau kegiatan usaha yang dikelola berdasarkan akad wakalah dengan menunjuk agen khusus (perwakilan) untuk mengelola usaha atas nama pemegang surat berharga syariah.
  • Sukuk Salam. Surat berharga syariah yang diterbitkan untuk mengumpulkan dana modal berdasarkan akad salam sehingga barang yang akan dikirimkan berdasarkan akad salam menjadi milik pemegang surat berharga syariah.
  • Sukuk Murabahah. Surat berharga dengan nilai yang sama yang diterbitkan untuk membiayai pembelian komoditas murabahah, sedangkan komoditas tersebut menjadi pemilik pemegang surat berharga syariah.
  • Sukuk Muzara’ah. Surat berharga syariah yang diterbitkan untuk menghimpun dana guna mendanai kegiatan pertanian berdasarkan akad muzara’ah sehingga pemegang surat berharga syariah berhak untuk ikut serta dalam panen sesuai dengan ketentuan akad.
  • Sukuk Musaqah. Surat berharga syariah yang diterbitkan untuk menggunakan dana hasil emisi surat berharga syariah untuk melakukan kegiatan irigasi untuk tanaman berbuah, untuk menutupi biaya operasi dan pemeliharaan tanaman berdasarkan kontrak musaqah.

2. Berdasarkan pihak penerbit

  • Sukuk korporasi. Surat utang syariah yang diterbitkan perusahaan atau emiten untuk keperluan membiayai kebutuhan dana perusahaan atau proyek-proyek perusahaan.
  • Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan ketentuan syariah sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing.

3. Berdasarkan pembagian atau pendapatan hasil

  • Sukuk margin. Surat berharga syariah yang pembayaran pendapatannya bersumber dari margin keuntungan akad jual beli. Terdiri dari sukuk murabahah, sukuk salam dan sukuk istishna’.
  • Sukuk fee. Surat berharga syariah yang pembayaran pendapatanya bersifat tetap karena bersumber dari pendapatan tetap dari sewa atau fee, yaitu sukuk ijarah.
  • Sukuk bagi hasil. Surat berharga syariah pembayaran pendapatanya berdasarkan bagi hasil dan hasil yang diperoleh dalam menjalankan usaha yang dibiayai, yaitu sukuk mudharabah dan musyarakah.

4. Berdasarkan basis aset

  • Sukuk asset. Pembiayaan yang berbasis pada aset termasuk di dalamnya sukuk salam, istishna’, murabahah, dan ijarah.
  • Sukuk penyertaan atau sukuk equity. Pembiayaan yang berbasis pada penyertaan modal (sukuk mudharabah atau musyarakah).

Kelebihan dan kekurangan sukuk

Setiap jenis investasi tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada jenis investasi yang selamanya selalu menguntungkan. Beberapa kelebihan dan kekurangan dari surat berharga syariah, yaitu:

Kelebihan

  • Potensi keuntungan surat berharga syariah lebih tinggi dari rata-rata tingkat bunga deposito bank umum.
  • Pajak investasi yang lebih rendah dari deposito, yaitu hanya 15%.
  • Surat berharga syariah yang diterbitkan pemerintah hingga saat ini belum ada terjadi kegagalan pembayaran.
  • Modal investasi yang terjangkau, yaitu mulai dari Rp1 juta saja.

Kekurangan

  • Pasar yang berfluktuasi sehingga keuntungan atau yield yang didapat bisa menjadi berkurang.
  • Surat berharga syariah juga termasuk ke dalam jenis investasi yang kurang likuid karena tidak bisa mencairkannya sewaktu-waktu.
  • Surat berharga syariah yang diterbitkan swasta mempunyai peluang gagal bayar yang lebih tinggi.
  • Tidak semua badan investasi menyediakan obligasi berbasis syariah.

Perbedaan sukuk dengan obligasi konvensional

Ada beberapa perbedaan mendasar antara surat berharga syariah dan obligasi konvensional. Cek beda sukuk dengan obligasi berikut ini.

  1. Sifat instrumen. Obligasi konvensional dinilai sebagai surat utang (pernyataan utang). Sementara surat berharga syariah menilainya sebagai sertifikat atas kepemilikan atau pembelian aset.
  2. Penggunaan dana. Jenis industri yang dijalankan penerbit (emiten) tidak dibatasi alias dibebaskan dalam obligasi konvensional. Sementara jenis industri yang dikelola dan pendapatan yang dihasilkan penerbit harus jauh dari unsur yang diharamkan syariat dalam surat berharga syariah.
  3. Keuntungan. Kupon (bunga) dan capital gain (kalau kamu menjualnya di pasar sekunder) dalam obligasi konvensional. Sementara imbalan yang berasal dari ujrah (uang sewa), margin, bagi hasil, atau imbalan lain sesuai dengan akad yang telah disepakati bersama dalam surat berharga syariah.
  4. Biaya administratif. Terdapat tambahan biaya (fee) dalam surat berharga syariah untuk upah Dewan Pengawas Syariah. Sementara obligasi konvensional tidak terdapat biaya tambahan tersebut.
  5. Pungutan OJK. Jumlahnya adalah sebesar 0,05% dari nilai emisi, maksimal Rp150 juta pada obligasi syariah dan Rp750 juta pada obligasi konvensional.
  6. Dokumentasi tambahan. Laporan pertanggung jawaban pada obligasi konvensional. Sementara pada surat berharga syariah, berupa dokumentasi tambahan yang isinya memaparkan berbagai transaksi pembiayaan syariah.

Dasar hukum fatwa MUI tentang investasi surat berharga syariah

Surat berharga syariah dalam penerbitannya harus mendapatkan fatwa dan/atau pernyataan kesesuaian syariah (opini syariah) dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau lembaga lain yang ditunjuk pemerintah.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang SBSN dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 125/PMK.08/2018 tentang Penerbitan dan Penjualan Surat Berharga Syariah Negara Ritel di Pasar Perdana Domestik.

Beberapa fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) terkait investasi surat berharga syariah, yaitu:

  1. Fatwa No.69/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN.
  2. Fatwa No.70/DSN-MUI/VI/2008 tentang Metode Penerbitan SBSN.
  3. Fatwa No. 10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah.
  4. Fatwa No. 85/DSN-MUI/XII/2012 tentang Janji (Wa’d) dalam Transaksi Keuangan dan Bisnis Syariah.
  5. Fatwa No.76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN Ijarah Asset To Be Leased.
  6. Fatwa No.112/DSN-MUI/IX/2017 tentang Akad Ijarah.

FAQ

Apa perbedaan sukuk dan saham?

Saham Syariah adalah surat berharga bukti penyertaan modal atas suatu perusahaan dengan sistem bagi hasil. Sementara sukuk adalah sertifikat atau bukti kepemilikan bersama atas aset tertentu dengan sistem bagi hasil.

Apa perbedaan sukuk ritel dan sukuk tabungan?

Perbedaannya terdapat pada tenor, kupon/imbal hasil, perdagangan di pasar sekunder, dan potensi capital gain.

Apakah investasi sukuk aman?

Ya, surat berharga syariah adalah instrumen investasi yang aman, mudah, terjangkau, dan menguntungkan.

Bagaimana perkembangan sukuk di Indonesia?

Perkembangan sukuk di Indonesia dimulai dari penerbitan sukuk oleh PT Indosat Tbk (ISAT) tahun 2002 dan ini menjadi penerbitan yang pertama di Indonesia.

Pemerintah Indonesia mulai menerbitkan sukuk setelah terbitnya Undang-undang (UU) Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.

Bagaimana cara beli sukuk ritel?

Sukuk ritel dapat dibeli melalui mitra distribusi Pemerintah, mulai dari:

  • bank umum (BCA, HSBC, Mandiri, BNI, Permata, BRI, BTN, Maybank, OCBC NISP, dan masih banyak lagi),
  • bank umum syariah (BSI, Muamalat),
  • perusahaan efek (BRI Danareksa, Mandiri Sekuritas, Trimegah),
  • peruahaan efek khusus (Bareksa, Tanam Duit, Fundtasctic),
  • P2P lending (Investree, Modalku, Koinworks).