Value Investing – Cara Menghitung dan Daftar Sahamnya

Kamu pernah terpikir untuk membeli saham di bawah harga normal? Kamu pikir itu gak mungkin? Mana ada saham undervalue, tapi kalau dijual lagi harganya wajar? Ada yang namanya strategi value investing lho.

Strategi value investing sudah diperkenalkan investor terkenal abad 20-an, Benjamin Graham, dan telah diikuti investor kelas dunia, Warren Buffet dan value investor Indonesia, Lo Kheng Hong.

Value investing adalah strategi investasi untuk menemukan saham terbaik dengan harga lebih murah dari harga wajarnya. Cara sederhananya, kamu harus mencari saham yang ‘salah harga’ berdasarkan fundamentalnya. 

Lakukan juga analisis rasio fundamental perusahaan, seperti harga wajar, laba, price to earning ratio (PER), arus kas perusahaan, kemampuan membayar utang, dan prospek masa depan dari perusahaan tersebut.

Mau tahu lebih lengkap tentang value investing? Yuk, dicek ulasan berikut ini!

Cara menghitung value investing

Value Investing – Cara Menghitung dan Daftar Sahamnya

Nilai wajar atau nilai intrinsik adalah harga wajar suatu perusahaan. Jika harga saham di atas nilai wajar, itu berarti saham tersebut mahal dan jika dijual di bawah nilai wajar, itu berarti saham tersebut murah.

Komponen yang umumnya digunakan dalam perhitungan nilai wajar, yaitu EPS tahunan yang sudah resmi keluar datanya dan EPS Growth. EPS atau Earning per Share adalah laba perusahaan yang dibagi per lembar saham.

Terkadang, rata-rata EPS Growth yang menggiurkan dapat membuat kamu percaya diri untuk memutuskan persentase maksimal yang besar.

Padahal, semakin kecil growth yang kita gunakan, semakin kecil pula nilai wajar yang nantinya akan didapatkan. Semakin kecil nilai wajarnya, semakin aman investasi yang kamu miliki.

Warren Buffet dalam bukunya Security Analysis (1962) menggunakan rumus valuasi sebagai berikut.

V (Nilai wajar) = EPS x (8,5 + 2G)

  • 8,5 adalah PER atau Price to Earning Ratio rata-rata untuk perusahaan yang tidak tumbuh labanya.
  • G adalah persentase maksimal EPS Growth.

Sementara Graham menggunakan rumus:

V (Nilai wajar) = EPS x (8,5 + 2G) x ( 4,4/AAA)

  • 8,5 adalah PER rata-rata untuk perusahaan yang tidak tumbuh labanya.
  • 4,4 adalah risk rate free, atau return dari investasi yang kecil resikonya seperti deposito. Untuk Indonesia rata-rata deposito adalah 6,5%.
  • AAA adalah bunga obligasi jangka panjang

Penambahan elemen bunga deposito dan obligasi digunakan untuk mengurangi besaran nilai wajar dikarenakan rumus lama. Semakin besar bunga deposito dan obligasi yang digunakan, semakin kecil nilai wajarnya. 

Kelebihan dan kekurangan value investing

Tidak ada teknik atau strategi dalam investasi yang memberikan kekayaan dan untung secara luar biasa dalam waktu yang singkat.

Begitu pula dengan value investing. Ada kelebihan atau keuntungan, ada pula kekurangan atau risikonya.

Kelebihan value investing

1. Value Investing dapat dilakukan siapa pun investornya

Tidak diwajibkan untuk mereka yang ahli saja semisal manajer investasi, teknik ini dapat dilakukan investor ritel. Pelajari dan pahami kondisi fundamental perusahaan adalah kuncinya.

2. Dapat memaksimalkan pertumbuhan investasi

Kemampuan investasi sangat mungkin untuk berlipat ganda atau ‘bunga berbunga’. Seiring berjalannya waktu, investasi akan bertumbuh karena pertumbuhan harga saham dan dividen yang dibagikan.

3. Sudah teruji oleh waktu

Telah digunakan Warren Buffet selama puluhan tahun sehingga Buffet sukses menjadi salah satu investor terkaya di dunia dengan menggunakan metode investasi ini.

4. Cenderung memiliki risiko lebih rendah

Value investing sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang agar investor bisa terhindar dari fluktuasi pasar yang terjadi dalam jangka pendek.

Kekurangan value investing

1. Memaksa seseorang untuk memiliki mindset investor

Value investing dapat memberikan return yang optimal jika dilakukan dalam jangka panjang. Jika kamu adalah trader dengan mindset jangka pendek, ada baiknya pikir ulang mengambil strategi ini ya.

2. Membutuhkan kesabaran tingkat tinggi

Tidak semua orang memiliki kesabaran super untuk menghargai proses agar mendapatkan hasil dan keuntungan maksimal.

Sebab hasil dari metode ini baru bisa dilihat dalam jangka waktu yang cukup lama. Beberapa orang pasti tersiksa karena return belum terlihat dalam waktu singkat.

3. Sulit mengukur nilai intrinsik

Terkadang, penentuan dari nilai intrinsik atau nilai wajar sulit diukur karena penggunaan metode yang berbeda-beda dari setiap investor.

4. Kinerja masa lalu perusahaan

Salah satu hal yang perlu kamu pahami dalam metode ini adalah laporan keuangan, khususnya kinerja masa lalu perusahaan.

Nah, kinerja masa lalu inilah yang tidak dapat menjamin kinerja masa depan. Karena ada hal-hal yang hanya bisa diukur oleh estimasi dari manajemen. 

Parameter value investing

Ada beberapa parameter yang perlu kamu pahami dalam value investing. Parameter ini penting sebagai dasar untuk menganalisis kondisi keuangan perusahaan. Parameter yang perlu kamu tahu meliputi:

1. PER

Price to Earning Ratio adalah metrik yang membantu investor menentukan nilai pasar suatu saham dibandingkan dengan pendapatan perusahaan.

Rasio PER yang tinggi dapat berarti bahwa harga saham relatif mahal terhadap pendapatan dan mungkin dinilai terlalu tinggi.

Sementara rasio PER yang rendah menunjukkan bahwa harga saham relatif murah terhadap pendapatan.

2. EPS

Earning Per Share adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur seluruh laba bersih yang didapatkan dari setiap jumlah lembaran saham yang sudah diedarkan.

Semakin meningkat nilai EPS dari tahun ke tahun, perusahaan tersebut semakin baik karena laba perusahaan meningkat serta perusahaan dapat dikatakan bertumbuh

3. PEG

Price Earning to Growth adalah rasio harga atau pendapatan terhadap pertumbuhan atau modifikasi dari PER yang juga memperhitungkan pertumbuhan pendapatan.

PEG akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang apakah harga saham dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah dengan menganalisis pendapatan hari ini dan tingkat pertumbuhan yang diharapkan.

4. PBV

Price to Book Value adalah untuk mengukur apakah suatu saham over atau undervalued dengan membandingkan nilai bersih (aset-kewajiban) perusahaan dengan kapitalisasi pasarnya.

PBV penting untuk menilai investor adalah karena menunjukkan perbedaan antara nilai pasar saham perusahaan dan nilai bukunya.

Nilai pasar adalah harga yang bersedia dibayar investor untuk saham berdasarkan pendapatan masa depan yang diharapkan. Sementara nilai buku diperoleh dari nilai bersih perusahaan.

5. ROA

Return On Asset adalah rasio profitabilitas yang mampu menilai kemampuan perusahaan dalam hal memperoleh laba dari aktiva yang digunakan.

ROA akan memberi gambaran bagi manajer, investor, atau analis mengenai seberapa efisien manajemen perusahaan dalam menggunakan aset untuk menghasilkan pendapatan. 

6. ROE

Return On Equity adalah rasio profitabilitas yang mengukur suatu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham dari perusahaan tersebut.

ROE dinyatakan dalam persentase dan dihitung dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan ekuitas yang telah diinvestasikan pemegang saham perusahaan.

7. DER

Debt to Equity Ratio adalah metrik saham yang membantu investor menentukan bagaimana perusahaan membiayai asetnya.

Rasio utang terhadap ekuitas yang rendah berarti perusahaan menggunakan jumlah utang yang lebih rendah untuk pembiayaan dibandingkan ekuitas pemegang saham.

Rasio utang ekuitas yang tinggi berarti perusahaan memperoleh lebih banyak pembiayaannya dari utang relatif terhadap ekuitas.

Terlalu banyak utang dapat menimbulkan risiko bagi perusahaan jika mereka tidak memiliki pendapatan atau arus kas untuk memenuhi kewajiban utangnya.

8. FCF

Free Cash Flow adalah uang tunai yang dihasilkan perusahaan melalui operasinya dikurangi biaya pengeluaran. FCF menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam menghasilkan uang tunai.

Ini juga merupakan metrik penting dalam menentukan apakah perusahaan memiliki cukup uang setelah mendanai operasi dan belanja modal untuk tetap memberi penghargaan kepada pemegang saham melalui dividen dan pembelian kembali saham.

Rekomendasi saham value investing

Value Investing – Cara Menghitung dan Daftar Sahamnya

Untuk kamu yang tertarik dan mencari rekomendasi saham value investing, berikut ada beberapa daftar kode dan nama saham yang tercatat dalam IDXV30 tahun 2021 periode efektif konsituen 29 September 2021 – Januari 2022. 

IDXV30 atau IDX Value30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham berdasarkan valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.

  1. Adaro Energy Tbk. (ADRO)
  2. Aneka Tambang Tbk. (ANTM)
  3. Astra International Tbk. (ASII)
  4. Bank Central Asia Tbk. (BBCA)
  5. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI)
  6. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI)
  7. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN)
  8. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI)
  9. Barito Pacific Tbk. (BRPT)
  10. Bukalapak.com Tbk. (BUKA)
  11. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN)
  12. XL Axiata Tbk. (EXCL)
  13. Gudang Garam Tbk. (GGRM)
  14. H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP)
  15. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP)
  16. Vale Indonesia Tbk. (INCO)
  17. Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF)
  18. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP)
  19. Kalbe Farma Tbk. (KLBF)
  20. Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA)
  21. Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA)
  22. Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS)
  23. Bukit Asam Tbk. (PTBA)
  24. Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR)
  25. Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG)
  26. Timah Tbk. (TINS)
  27. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM)
  28. Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR)
  29. United Tractors Tbk. (UNTR)
  30. Unilever Indonesia Tbk. (UNVR)

Sebagai informasi, banyak investor yang beralih dari growth stock ke value stock karena kenaikan harga yang sudah tinggi.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sektor teknologi sudah menguat hingga 795,33% sejak awal tahun atau year to date (YTD).

Value stock memang menawarkan valuasi yang murah, tetapi tidak memiliki kenaikan harga setinggi growth stock. Growth stock ataupun value stock tetap memiliki prospek dan risiko masing-masing.

Strategi value investing dan growth investing

Strategi value investing adalah investasi saham yang berfokus pada value atau mencari saham yang nilainya di bawah dari nilai pasar atau nilai wajar sehingga dinilai cukup murah.

Sayangnya, banyak value investor yang terjebak dengan mindset mencari saham “yang penting murah” sehingga saham yang didapat tidak jarang adalah saham yang murahan.

Maksudnya, mungkin secara valuasi harga sedang murah, tapi harganya tidak naik-naik. 

Ada lagi istilah value trap, yaitu saham yang dianggap murah tersebut ternyata memang murahan dan berpotensi terus turun. Hal ini tentu tidak akan membuat kamu untung nantinya.

Karena itu, murah atau mahalnya value suatu saham bukan poin utama jika kamu sebagai value investor. Kinerja perusahaan justru menjadi faktor lain yang penting untuk menilai bagus tidaknya suatu saham.

Kalau kamu ingin mencari tahu apakah perusahaan yang kamu incar memiliki kinerja bagus dan bertumbuh? Kamu bisa mencari tahunya lewat strategi growth investing.

Growth investing berfokus pada potensi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan ke depannya.

Biasanya saham-saham yang termasuk dalam kategori ini dihargai “mahal” sehingga harganya di pasar melebihi harga wajarnya. 

Logikanya, pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan akan berdampak positif pada kenaikan harga saham.

Perusahaan yang sedang bertumbuh juga biasanya melakukan reinvestasi pendapatannya untuk melakukan ekspansi dan tidak memberikan dividen kepada investor.

Kelebihan strategi growth investing adalah kamu bisa mendapatkan profit yang besar dalam jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan value investing.

Untuk membuatmu tambah yakin akan saham perusahaan yang ingin kamu beli, coba kamu lihat laporan keuangan 5 tahun terakhir yang menunjukkan pertumbuhan profit konsisten, apakah didukung manajemen yang baik dan secara teknikal pun terlihat jelas kalau saham ini sedang dalam stage 2 atau dalam fase uptrend?

Jika iya, silakan mencoba!

Value investing ala Lo Kheng Hong

Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai Warren Buffet-nya Indonesia adalah salah satu investor andal yang sering kali ditunggu saran dan nasihatnya oleh para investor baru untuk membeli saham.

Dalam berbagai kesempatan, Lo Kheng Hong sering menjelaskan strategi value investing yang dia lakukan sebenarnya sangat mudah untuk ditiru banyak orang.

Dia menjelaskan tiga tahapan untuk menemukan saham yang bagus melalui value investing, yaitu:

  • Cari saham yang fundamentalnya bagus.
  • Pastikan current equity lebih besar dari current liability. Artinya, modal lancar harus lebih besar dari utang lancar.
  • Pastikan debt to equity ratio (DER) di bawah 100 persen. Ini merupakan perbandingan utang dengan modal sehingga utang harus lebih kecil dari modal. 

Lalu, bagaimana cara memilih perusahaan yang bagus menurut Lo Kheng Hong? 

Kamu harus meneliti perusahaan sebelum membeli saham. Jangan ragu untuk memilih perusahaan berteknologi rendah karena mereka tidak punya biaya maintenance yang tinggi untuk merawat alat-alat canggih.

Misal, Indosat adalah saham berteknologi tinggi, tapi kurang menguntungkan karena capex dan opex-nya sangat besar.

Dibanding mengoleksi saham semacam itu, Lo Kheng Hong lebih menyarankan agar investor mengoleksi saham perusahaan berteknologi rendah dan menghasilkan keuntungan yang konsisten.

Kamu juga harus memilih emiten dengan manajemen yang bagus sehingga perseroan dikelola secara profesional, berintegritas, dan kompeten.

Bagaimana dengan fundamental? Beberapa hal yang kamu harus pastikan adalah:

  • Earning per share atau laba per saham bertumbuh secara konsisten.
  • Price earning ratio yang sekecil mungkin. Ini menandakan perusahaan menguntungkan.
  • Harga saham di bawah nilai intrinsik atau sedang diskon.

Mau bukti keberhasilan strategi value investing dari Lo Kheng Hong ini? Cek daftar sahamnya berikut ini.

  • Lo pertama kali investasi di pasar modal pada 1993 dan membeli saham PT Rig Tenders Tbk (RIGS). Saat itu saham RIGS dibeli Lo di harga Rp800 per saham. Selang setahun, harga saham RIGS naik ke level Rp1.350 per saham. Dia berhasil meraup cuan 68%.
  • Saat krismon 1998, Lo membeli saham PT United Tractor Tbk (UNTR) di harga Rp250 per saham. Dia pegang saham tersebut hingga tahun 2004. Kemudian dia menjualnya di posisi Rp15.000 per saham. Dari investasi ini, Lo berhasil cuan 5.900%.
  • Pada 2005, Lo juga membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI) di harga Rp250 per saham. Enam tahun kemudian pada tahun 2011, dia menjual saham MBAI pada harga Rp31.500 per lembar sehingga Lo untung 12.500%.

Tips cara value investing agar untung

Melakukan investasi saham pasti mengharapkan keuntungan. Nah, agar kamu tidak salah langkah atau comot saham yang akan dibeli, ada beberapa tips dari strategi value investing. Yuk, di cek!

1. Pilih metode analisis

Ada beberapa metode analisis, seperti top-down dan bottom-up analysis.

Top-down merupakan jenis analisis yang bersifat menyeluruh atau global dan beranjak ke hal yang lebih spesifik. Sementara analisis bottom-up menilai sebuah saham dari hal yang spesifik seperti fundamental perusahaan.

2. Pantau sektor yang sedang trending

Kamu perlu memahami sektor mana yang saat ini sedang populer atau tren di kalangan para investor. Kepopuleran suatu sektor akan membuat peningkatan harga saham secara signifikan.

3. Screening saham dengan fundamental positif

Lakukan screening secara efektif dengan menentukan kriteria-kriteria tertentu. Misalnya, kelompokkan emiten dengan ROE lebih dari 15 persen, PBV kurang dari 1x, ataupun PER kurang dari 10.

Setelah itu, kamu bisa memilih beberapa saham saja yang bakal dievaluasi satu per satu secara lebih mendalam.

4. Pahami valuasi dan nilai intrinsik sebelum membeli saham

Pelajari dan pahami tentang bagaimana cara untuk menilai harga dari suatu saham. Valuasi sebuah saham dapat dilakukan dengan menggunakan dua rasio, yakni PBV dan PER.

5. Analisis faktor fundamental

Pahami fundamental perusahaan dengan cara membaca laporan keuangan terbaru. Cari tahu bagian pentingnya, seperti informasi laba atau rugi perusahaan.

6. Pilih waktu yang tepat untuk membeli saham

Waktu yang paling tepat untuk membeli saham adalah saat harganya berada di bawah nilai intrinsik atau undervalue.

Cek juga histori harga saham sebelumnya sehingga keuntungan berinvestasi bisa kamu dapatkan dengan lebih maksimal.

7. Pantau rutin saham di portofolio

Kamu bisa melakukan dengan cara mengawasi kinerjanya dan membaca laporan keuangannya pada situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI).

8. Pilih waktu terbaik menjual saham

Lakukan pemantauan untuk menentukan kapan waktu terbaik menjual saham.

Cek juga beberapa masalah internal pada perusahaan, seperti masalah serius pada manajemen atau kondisi keuangan juga dapat menjadi alasan untuk segera menjual saham.

Pahami juga trendline-nya (uptrend atau downtrend). 

Walaupun sedang mengalami penurunan, jika perusahaan memiliki fundamental positif, tidak salah jika kamu tetap hold. Yang penting, jangan mudah panik dan gegabah ya!

FAQ

Bagaimana cara value investing?

Kamu mencari saham yang ‘salah harga’ atau undervalue (di bawah harga wajar) berdasarkan laporan keuangannya, tetapi akan dijual di harga wajar nantinya. Karena merupakan investasi jangka panjang, kamu tentu butuh kesabaran ekstra.

Apa itu margin of safety?

Margin of safety adalah elemen untuk mengukur tingkat keamanan penjualan perusahaan. Jumlah kelebihan dari penjualan yang dianggarkan (aktual) di atas titik impas volume penjualan.

Apa itu growth investing?

Strategi investasi yang berfokus pada potensi pertumbuhan sebuah bisnis.